Lomba Wajah Muslim Indonesia

Lembaga Dakwah Kampus SALAM UI, Proudly Present :

WAJAH MUSLIM INDONESIA

Indonesia merupakan negara yang unik dikarenakan kemajemukan budaya, ras, dan agamanya. Didasari oleh keunikan tersebut terdapat sebuah fakta bahwa mayoritas penduduk Indonesia emenganut agama Islam. Kehadiran Islam sejak abad ke-7 M memiliki peranan penting dalam prjalanan dan kemajuan bangsa Indonesia. Keislaman dan Ke-Indonesia- an adalah dua kata yang telah menyatu selama 13 abad lamanya hingga kini. Oleh karena itu, banyak kebudayaan Indonesia yang mengandung nilai-nilai keislaman di dalamnya. Dilatarbelakangi oleh hal tersebut dan dalam rangka turut mensukseskan program pemerintah “Visit Indonesia Year 2008” SALAM UI bermaksud mengadakan kegiatan “Wajah Muslim Indonesia” untuk memunculkan kembali wajah riil bangsa Indonesia dengan keragaman budayanya, terutama seni dan budaya Islam. Dengan demikian, potensi bangsa Indonesia dalam bidang pariwisata pun semakin tergali.

Kegiatan “Wajah Muslim Indonesia” merupakan acara pameran budaya yang menampilkan berbagai kebudayaan yang ada di Indonesia. Pameran diwujudkan dalam performance kebudayaanoleh putra-putri daerah di Indonesia pada tanggal 23-24 Juli 2008 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Ulasan lebih lanjut mengenai kebudayaan di Indonesia akan dibahas dalam sesitalkshow yang merupakan salah satu bagian dari acara ini. Kegiatan dengan tema “BudayaIndonesia Cermin Masyarakat Islam Inklusif” ini diselenggarakan berdampingan dengan program pemerintah yang dilaksanakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yaitu “Visit Indonesia Year 2008, Celebrating 100 Years of National Awakening”.

Lomba WMI

Selain pertunjukan budaya dan talk show, dalam festival WMI juga diselenggarakan lomba yang bisa diikuti oleh kalangan pelajar dan umum se-Indonesia. Berikut ini adalah lomba yang diadakan beserta ketentuannya:

Lomba Fotografi

Tema: “Pertunjukan Seni Tradisional Cermin Masyarakat Islam Indonesia
Untuk mahasiswa dan umum
Ukuran foto: 10R
Pengiriman max 2 foto untuk satu orang peserta

Lomba Menulis Essay

Tema: “Islam dalam Seni Budaya Indonesia
Untuk Pelajar SMA Se-Nasional
Ukuran kertas: A4
Huruf: Times New Roman (12); Spasi : 1.5
Margin:
all 3cm
Jumlah kata 1000-1200 kata

Lomba Poster

Tema: “Nilai Keislaman dalam Budaya Bangsa Indonesia
Untuk Mahasiswa dan Umum
Ukuran poster: A3
Poster gambar manual bukan hasil printing
Pengiriman max 2 poster untuk satu orang peserta

Hadiah

  • Lomba Fotografi dan Poster
    Juara I : Rp 1.250.000 + Sertifikat
    Juara II : Rp 1.000.000 + Sertifikat
    Juara III : Rp 750.000 + Sertifikat
  • Lomba Menulis Essay
    Juara I : Rp 1.000.000 + Sertifikat
    Juara II : Rp 750.000 + Sertifikat
    Juara III : Rp 500.000 + Sertifikat

Juri Lomba

Lomba Fotografi: Arbi Jabar (Fotografer)
Lomba Menulis Essay: Prie G. S. (Sastrawan, Penulis Novel)
Lomba Poster: Edwin Ivan U. (Pengajar MPK Seni UI)

Ketentuan Umum Ketiga Lomba

  1. Peserta tidak dikenakan biaya apapun (gratis).
  2. Karya merupakan karya orisinil (bukan plagiat) dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun.
  3. Batas maximal pengumpulan karya 12 Juli 2008
  4. Karya Foto dan Poster dikirim dalam bentuk hardcopy ke alamat:
    Sekretariat Salam
    UI
    d. a. Toko Buku Yasmin
    Masjid Ukhuwah Islamiyah (Masjid UI)
    Kampus Baru Universitas Indonesia
    Depok
  5. Karya essay dikirim dalam bentuk softcopy ke alamat:
    wmi_salamui@yahoo.com
    Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
    <!–
    document.write( ‘</’ );
    document.write( ’span>’ );
    //–>
  6. Jangan lupa sertakan biodata diri
  7. Para pemenang akan diumumkan dan dihubungi oleh panitia
  8. Para pemenang diundang pada acara puncak untuk menerima hadiah
  9. Karya peserta akan menjadi milik panitia.

Silahkan hubungi:

  1. M. Arif Julianto (085694063457)
  2. Antoni Ridzki Andromeda (081359161405)
  3. Sekretariat SALAM UI
    Masjid Ukhuwah Islamiyah lantai 2
    Universitas Indonesia, Depok 16424

Buka juga, www.wajahmuslimindonesia. wordpress. com

“Mari Bersama Belajar Mencintai Indonesia Kita!!!”

Oleh:

Akhukum Fillah Achmad Fahrozi

Ketua Umum Dekade 1 SALAMUI

“Mari Bersama Belajar Mencintai Indonesia Kita!”

Penyebaran Islam merupakan salah satu proses yang sangat

penting dalam sejarah Indonesia, tapi juga yang paling tidak jelas

(Sejarah Indonesia Modern, M.C Ricklefs).

Keislaman dan Keindonesian adalah dua kata

yang telah telah menyatu selama berabad-abad lamanya hingga kini.

Oleh karena itu, banyak kebudayaan Indonesia

yang mengandung nilai-nilai keislaman di dalamnya.

Di mana kebanggaan itu sekarang? Sengaja saya ajukan sebuah pertanyaan singkat yang mungkin sejenak terlintas “tidak penting” di awal tulisan ringan ini. Ada hal yang menarik kalau kita mau belajar dari sejarah tentang berbagai kemenangan-kemenangan yang lahir dalam suatu medan pertempuran atau medan kompetisi baik fisik ataupun ideologis. Bagaimana kemenangan para Nabi dan Rasul-Nya seperti kemenangan Rasulullah saw dalam dakwahnya di Mekah dan Madinah? Kemenangan Nabi Musa as dalam menghentikan keangkuhan imperium Fir’aun? Bagaimana kemenangan bangsa tercinta ini dalam merebut kemerdekaannya tahun 1945? Sampai kepada bagaimana kemenangan dakwah itu bisa kita lahirkan di kampus tercinta ini? Bahkan, sampai kepada kemenangan sederhana tapi bermakna yang setiap saat mungkin mengisi hari-hari kita di kampus seperti menjadi Mapres Utama UI, Memenangi berbagai even perlombaan dan lain-lain.

Dalam setiap pertempuran, kita akan menemukan jawaban akhir yang dikotomi (mutually exclusive), kalah atau menang? Namun, tanpa harus dilakukan penelitian pun kita pasti tahu jawabannya bahwa kemenangan adalah harga mutlak yang diinginkan setiap individu, komponen, organisasi atau masyarakat. Kemenangan bukanlah sesuatu yang kita ciptakan melainkan kita “ikut” ciptakan. Artinya, ada dua faktor penting di sana. Adalah Allah yang menentukan takdir kita dan bagaimana keoptimalan ikhtiar (usaha) kita. Jadi kalau kita mau meraih kemenangan itu, syaratnya sangatlah mudah, yaitu bagaimana kita dapat mempertemukan antara kekuatan kehendak Allah SWT dengan keoptimalan ikhtiar kita. Atau dengan kata lain, sudah pantaskah ikhtiar (usaha) yang kita lakukan dengan imbalan kemenangan tersebut (Ar-Ra’ad: 13). Saya tidak akan membahas tentang kehendak Allah SWT, karena itu hanya kewenangan-Nya sekaligus kita pun tsiqoh (percaya) bahwa keputusan-Nya adalah yang terbaik buat kita sebagai hamba-Nya. Maka bentuk intervensi yang memiliki daya pengaruh kuat atas kehendak Allah SWT adalah do’a karena do’a adalah sumsumnya ibadah.

Meraih Kemenangan Hakiki

Kembali kepada sejarah berbagai kemenangan di atas tadi. Ada hal unik kita temukan di antara berbagai kemenangan tadi. Ternyata kemenangan-kemenangan tersebut memiliki berbagai kesamaan antara kemenangan yang satu dengan yang lainnya. Kesamaan itu terutama terletak pada unsur-unsur kemenangan (anasirul falah) yang ada yang akhirnya memang membuat mereka memang layak dapat tiket kemenangan itu. Bingung ya? Begini maksudnya, dalam setiap kemenangan pasti ada faktor-fakor atau syarat-syarat yang harus dimiliki supaya bisa menang (sebab-akibat). Sejauh mana kita memiliki prasyarat itu, sejauh itulah kata “menang” menghampiri. Semakin bulat kita miliki prasyarat itu, semakin bulat juga definisi “menang” tergenggam. Semakin kita mampu menghadirkan prasyarat itu, semakin kuat pula kita menghadirkan kemenangan di pelupuk mata kita.

Di manakah letak kesamaan itu? Kemenangan “Harga Diri” lah letak kesamaannya. Jauh sebelum kemenangan seutuhnya diraih, ternyata itu diawali kemenangan “harga diri”. Dalam konteks individu bernama kemenangan “harga diri”, sedangkan dalam konteks masyarakat atau bangsa disebut “nilai bangsa”. Ternyata kemenangan harga diri itu tidak begitu saja muncul, melainkah harus dan memang sengaja dihadirkan. Karena disitulah letak kunci kemenangan sesungguhnya. Di sinilah hakikat kemenangan itu. Jika kemenangan “harga diri” dimiliki maka kemenangan seutuhnya tinggal menunggu waktu.

Itulah yang dilakukan Rasulullah saw. ketika berdakwah selama 13 tahun di Mekkah dengan membangun harga diri kaum muslimin. Bahkan, hebatnya untuk membangun sebuah peradaban baru di madinah yang mampu menjadi pelita di tengah peradan Persia dan Romawi butuh waktu yang lebih singkat yaitu hanya butuh 10 tahun saja. Begitupun yang dilakukan oleh Nabi Musa as. Hasan Al-Banna menjelaskan tahapan-tahapan kebangkitan berdasarkan teks Al-quran. Ia mengutarakan tahapan-tahapan pertentangan antara Musa dan Fir’aun: 1. Tahap kelemahan dan penindasan (kehilangan harga diri) (Al-Qashas; 3-6), 2. Tahap persiapan memegang kepemimpinan (As-Syuara’: 16-21), 3. Tahap Pergulatan dan perlawanan dari musuh (al-A’raf:127-128), 4. Tahapan keimanan dan memberikan tantangan (Thaha: 72-73), 5. Tahap kemenangan dan keberhasilan ( Thaha : 80). Di sini kita lihat bahwa kebangkitan mulai akan muncul dari hilangnya harga diri yang ditandai dengan kehadiran jiwa yang lemah. Oleh karena itu, untuk membangkitkan ruh kebangkitan harus dimulai dengan mengisi kekosongan jiwa tersebut dengan nilai-nilai kemuliaan hingga bangkitnya “harga diri” itu (lihat Tahap 2 di atas).

Begitupun dengan Indonesia, berkaca pada peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Indonesia. Kebangkitan “harga diri” muncul ketika penjajah hadir merampas kebebasan bangsa Indonesia. “Menjadi jajahan itu tidak enak sekali, terasa sekali bedanya dengan penjajah. Mereka memiliki hak yang banyak dan kewajiban sedikit sedangkan yang dijajah kewajiban banyak sedangkan haknya sedikit.” Demikianlah gambaran S.K Trimurti menjelaskan pahitnya sebuah penjajahan. Kezhaliman merebak di mana-mana. Hingga akhirnya kesadaran antipenjajah diilhami oleh seluruh lapisan masyarakat. Inilah titik tolak kebangkitan “harga diri” itu. Tokoh-tokoh Islam dan aktivis pergerakan nasional mengambil peranan penting dalam melawan kolonialisme. Kebangkitan harga diri menghasilkan sebuah persatuan. Persatuan adalah kata kunci kemenangan. Bangsa Indonesia di atas segalanya sesuatunya mengutamakan persatuan. Tanpa persatuan, Indonesia tidak akan mampu merdeka, bahkan dengan sangat mudah dicabik-cabik kolonialis. Persatuan juga menghasilkan identitas bangsa dan cita-cita bersama yakni Indonesia Merdeka.

Bayangkan, pada saat itu pejuang kita tidak memiliki apa-apa. Persenjataan, perlatan canggih dan modern, armada perang terlatih, pasokan makanan, dana yang melimpah, kita tidak memilikinya. Tapi, hanya berbekal harga diri yang tercermin dalam dua kata penting yang menjadi simbol perjuangan “Indonesia Merdeka”, kita mampu memukul mundur para penjajah dan memerdekakan diri. “Kalau kamu tidak pernah berpikir seperti seorang Budak, tak akan ada seorang pun yang bisa membuat kamu menjadi budak” (Ibu Martin Lither King). Begitu simplenya sebuah kemerdekaan. Itulah yang ada di benak para pejuang kita bahwa kita bukan jajahan. Maka, tidak akan ada seorang pun yang boleh menjajah. Inilah perintah Allah dalam surat Ar-Ra’ad:13 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri.”

Islam Mengajari Kita Mencintai Negeri ini

Marilah kita merenung sejenak tentang Indonesia kita ini. Berapa banyak dan besarnya potensi yang dimiliki bangsa ini. Kita memiliki puluhan ribu pulau (sekitar 17ribuan pulau), kekayaan alam melimpah, sawah dan hutan membahana, gunung-gunung berbaris, lautan terbentang luas, SDM potensi begitu banyak (90% muslim). Tapi apakah pada hakikatnya kita memiliki itu semua? Mungkin secara kepemilikan ya, tapi siapakah yang menikmati? Negeri ini ibarat orang sehat secara fisik yang tidak mampu menikmati rasa sehat itu. Ia seperti memiliki segala sesuatunya tapi tak mampu merasakan sendiri kekayaannya itu. Ia seperti menang tapi memiliki hakikat kekalahan. Ia seperti orang yang melihat tapi pada memiliki hakikat kebutaan.

Belum lagi perpecahan, konflik internal antar sesama bangsa. Bagaimana kasus perpecahan kaum muslim antar sesamanya. Belum lagi tuduhan terorisme dan radikalisme yang dilancarkan oleh mereka yang membenci Islam untuk meraih keuntungan. Sehingga dengan bebasnya mereka mencaplok kekayaan-kekayaan negeri-negeri Muslim. Lihatlah Irak, Afganistan, Palestina dan tentunya Indonesia tercinta ini. Dengan berat hati, kita harus mengakui bahwasannya negeri ini sudah tidak lagi punya “harga diri” (Anda boleh sepakat atau tidak). Harga diri ini harus terampas kedua kalinya oleh kolonialisme meskipun bentuknya bukan berupa penjajahan fisik seperti penjajahan konvensional yang dilakukan oleh Belanda, Jepang dan Inggris. Inilah peran kita. Kita harus mengembalikan kemenangan itu. Kita harus mengembalikan kejayaan itu. Kita harus mengembalikan harga diri itu sebagai prasyarat utama kemenangan itu.

Umat Islam mayoritas di negeri ini (200 juta). Sejak abad ke-7 Islam masuk ke negeri ini, tapi luar biasanya hingga kini Islam tetap menjadi mayoritas. 13 abad eksistensi Islam di negeri ini bukanlah waktu yang singkat. Tentu kita ingat, bagaimana Islam menjadi perekat bangsa ini (sense of bounding) tahun 1928, tahun 1945 dan para pejuang kita menjadi saksi. Bagaimana H.O.S Tjkroaminoto, H. Agus Salim, K.H Mas Mansur, K.H Ahmad Dahlan, K.H Hasyim Asy’ari, Tjut Nyak Dien, Teuku Umar, Panglima Sudirman, Bung Tomo, Kapiten Pattimura, Pangeran Diponegoro dll. Janganlah pernah meragukan nasionalisme umat Islam dalam perjuangan bangsa ini. Penyebaran Islam merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, tapi juga yang paling tidak jelas (Sejarah Indonesia Modern, M.C Ricklefs). Keislaman dan Keindonesian adalah dua kata yang telah telah menyatu selama berabad-abad lamanya hingga kini. Oleh karena itu, banyak kebudayaan Indonesia yang mengandung nilai-nilai keislaman di dalamnya. Bukan bermaksud untuk mengambil sejarah Indonesia menjadi seluruh sejarah Islam. Tapi perlu objektivitas bahwa Islam memiliki peranan yang teramat penting dalam perjalanan bagsa ini tanpa harus melupakan sejarah lain.

Kini dalam proses pengembalian “Harga Diri” umat muslim berhadapan dengan dua permasalahan utama. Pertama, dari kalangan umat muslim itu sendiri. Dewasa ini, kita akan banyak menemukan orang yang mengaku dirinya Islam, tapi pada hakikatnya bukan Islam bahkan “malu” mengakui bahwa dirinya umat Islam. Banyaknya permasalahan yang menimpa negeri Muslim membuatnya ragu untuk menjadi muslim seutuhnya. Belum lagi, hilangnya “sejarah kebanggaan” dari memori mereka semakin memperbesar rasa “rendah diri” mereka. Ditambah pula mereka yang hanya mengambil kesenangan sesaat untuk kepentingan pribadi mereka. Lengkaplah penderitaan negeri ini. Kedua, dari kalangan yang tidak suka dengan Islam. Mereka yang senantiasa memandang Islam lewat kaca mata rasionalitas. Lebarnya kesenjangan antara nilai Islam dengan perilaku penganutnya menambah keyakinan mereka akan bahaya Islam. Belum lagi, penampakan media massa yang terkadang tidak objektif dan menyudutkan islam semakin mempertajam memori mereka untuk semakin membenci Islam. Bukanlah pembacaan terhadap ayat-ayat Allah SWT dan bukanlah pembelajaran dan pengajaran hikmah yang mereka gunakan dalam melukiskan Islam, melainkan mata persepsilah yang mereka gunakan untuk mempertegas alasan mengapa Islam harus dimusuhi. Belum lagi konspirasi global yang memang secara sengaja dan sadar bertujuan ingin menghancurkan negeri-negeri Islam termasuk negeri kita ini.

Saudaraku, inilah masalah terbesar kita. Kini, bangsa kita tidak memiliki apa-apa. Negeri kita adalah negeri besar, itu adalah bualan belaka. Kekayaannya yang melimpa ruah itu hanyalah ilusi. Nyatanya kita tidak mampu sedikitpun menikmati kekayaan itu. Kelaparan, kematian karena gizi buruk, kemiskinan, kebodohan masih saja menghiasi negeri indah ini.

Saudaraku, bolehlah mereka merampas semua yang kita miliki. Tapi janganlah pernah terampas oleh mereka “harga diri” ini. Harga diri menggambarkan perasaan sakit yang menyakitkan apabila penjajahan terjadi di negeri ini. Harga diri menggambarkan hati yang suci dan tulus berkorban untuk martabat bangsa. Harga diri menggambarkan semangat yang terus menyala dan berkobar untuk berjuang bagi berdirinya bangsa yang adil, makmur dan sejahtera. Harga diri menggambarkan kebanggan untuk senantiasa menjadi tebusan bagi lahirnya sebuah tatanan peradaban mulia. Dari harga dirilah lahir perjuangan, pengorbanan, kemerdekaan, keadilan, kemakmuran, kesehjateraan dan martabat bangsa. Banggaku akan menjadi seorang muslim yang sebulat-bulatnya. Sudah saatnya kau penuhi panggilan itu wahai para mujahid. Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…

Tingginya Tingkat Perceraian Di Indonesia

Perubahan nilai-nilai sosial yang sedang terjadi di tengah masyarakat Indonesia membuat tingkat perceraian semakin tinggi. Bahkan akibat kemampuan ekonomi yang terus meningkat di kalangan kaum Hawa, ikut mempengaruhi tingginya gugatan cerai yang diajukan istri terhadap suami. Saat ini begitu mudah pasangan suamiistri yang melakukan cerai dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di rumah tangga.

Jumlah perceraian di Indonesia telah mencapai angka yang sangat fantastis. Tercatat, pada tahun 2007, sedikitnya 200 ribu pasangan melakukan pisah ranjang alias cerai. Meski angka perceraian di negara ini tidak setinggi di Amerika Serikat dan Inggris (mencapai 66,6% dan 50% dari jumlah total perkawinan), namun angka perceraian di Indonesia ini sudah menjadi rekor tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Sedangkan di wilayah Jawa Timur, peningkatan angka perceraian dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2003, angka perceraian berjumlah 40.391 pasangan bercerai. Tahun 2004 meningkat menjadi 42.769 dan tahun 2005 mencapai 55.509 kasus perceraian.

Banyaknya perceraian itu sebagai dampak globalisai arus informasi melalui media massa salah satunya adalah tayangan infotainment yang menampilkan figur artis dengan bangga mengungkap kasus perceraiannya. Pada tahun 2000-an hanya 30 persen perceraian talak, di mana suami menceraikan isteri, sedangkan tahun 2005 ada 68, 5 persen perceraian melalui cerai gugat, di mana isteri menggugat cerai suaminya.

Angka perceraian di Indonesia diprediksi oleh banyak pihak akan selalu meningkat tiap tahun. Hal itu dikarenakan life style (gaya hidup) masyarakat selalu berubah. Pondasi nilai-nilai keagamaan mulai luntur. Dasar meniti bahtera rumah tangga tak lagi mendasar pada al-Quran dan hadist.

Dan ironisnya, pemahaman kedua dasar hukum Islam tersebut seringkali di maknai sepotong-potong sesuai dengan kepentingannya. Pada dasarnya, perceraian memang diperbolehkan dalam islam. Namun hal itu juga sangat dibenci oleh Islam meskipun perceraian itu menjadi fenomena yang terjadi di masyarakat Indonesia.

PORNOGRAFI, PERUSAK MORAL BANGSA

Masalah moral yang kian meresahkan dan semakin merebak di masyarakat cukup beragam, salah satunya adalah pornografi. Pornografi yang membentuk mental seseorang menjadi buruk dapat menjauhkan diri dari nilai-nilai serta ajaran agama Islam. Pihak yang sering menjadi korban pronografi sebagian besar adalah kelompok remaja. Mereka yang sedang mengalami fase transformasi dari jiwa anak-anak menjadi dewasa sangat rentan dengan berbagai bahaya mental di lingkungan mereka, salah satunya pornografi. Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat pada saat sekarang ini membuat aliran informasi menjadi semakin mudah dan cepat. Akses untuk mendapat suatu informasi dengan adanya bantuan teknologi menjadi sangat mudah dan tidak dapat dipungkiri sangat mebantu dalam kehidupan pribadi setiap individu. Semakin canggihnya teknologi, semakin mudahnya para remaja mengakses situs-situs pornografi dengan media internet. Oleh karena itu dibutuhkan suatu sistem yang melindungi masyarakat, terutama kelompok remaja, dari pornografi.

Selain itu, dampak negatif yang paling parah yang diberikan oleh internet dan dirasakan langsung adalah terjadinya degradasi moral di kalangan generasi muda Indonesia pada saat sekarang ini. Kemudahan mengakses internet karena banyaknya warnet di Indonesia dan murahnya harga yang ditawarkan serta lemahnya pengawasan baik dari instansi pemerintahan terkait maupun dari pengusaha warnet yang hanya menginginkan keuntungan menyebabkan pengguna internet menjadi sangat mudah untuk mengakses dan mendownload hal-hal yang tidak baik seperti gambar-gambar atau film-film yang bertema kekerasan, dewasa atau porno. Hal ini menyebabkan para pengguna internet khususnya generasi muda yang tak kuat iman menjadi terlalu cepat dewasa tanpa diimbangi pematangan dari segi moral, akhlak dan sifat.

Pornografi adalah bahan-bahan atau materi-materi berupa tulisan, gambar, dan yang sejenisnya yang memperlihatkan kegiatan seksual dan atau memperlihatkan organ-organ genital yang dimaksudkan atau dapat dianggap memiliki maksud untuk membangkitkan keinginan melakukan persetubuhan atau pelampiasan hasrat seksual. Dengan dibuat dan disahkannya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), pengaksesan situs pornografi dapat diminimalisir. Dengan adanya UU ITE, masyarakat luas khususnya perempuan dan anak-anak yang paling rentan menjadi objek pornografi dapat memperoleh perlindungan dari dampak pornografi serta berbagai bentuk eksploitasi, komoditasi, dan objektifikasi seksual terkait pornografi.

Namun bukan berarti dengan disahkannya UU ITE, tidak ada pihak yang tidak setuju. Masih saja ada pihak yang menentang undang-undang tersebut. Inilah peran serta kerja sama antara pemerintah dan masyarakat yang mendukung undang-undang tersebut dalam menghadapi bahaya pronografi. Bagaimana caranya agar dengan adanya UU ITE, bahaya pornografi dapat dikurangi secara kontinue dan optimal. Salah satunya adalah dengan melakukan pemblokiran situs-situs yang mengandung muatan pornografi.

Jika adanya komitmen antara pemerintah dan masyarakat dalam mengurangi bahaya pornografi, apalagi yang terkait dalam perusakan moral bangsa, maka tidak menutup kemungkinan UU ITE dapat terlaksana dengan efektif, tepat sasaran, dan optimal. Pemberian sanksi yang tegas terhadap segala tindakan yang dapat merusak moral bangsa melalui media internet dan pembentukan cyber police untuk pengawasan internet bisa menjadi suatu alternatif lain bagi pemerintah Indonesia agar dapat mengendalikan perkembangan internet sesuai dengan integritas moral bangsa kita. Bagaimanapun juga, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk dapat mempertahankan stabilitas moral bangsa kita agar tetap terjaga dengan baik, sehingga pengawasan internet tidak harus dilakukan oleh instansi pemerintahan terkait saja, akan tetapi masyarakat Indonesia juga wajib untuk dapat mengawasi perkembangan internet di lingkungan sekitarnya. Kerja sama yang baik dari segala pihak, khususnya dari pihak pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat memberi perubahan berarti dalam pengawasan laju perkembangan internet di Indonesia. Mari bersama-sama kita ciptakan suatu iklim penggunaan internet yang baik. Ambil manfaatnya dan buang mudharatnya.

LSF Tunda Peredaran Film ‘ML’

Kapanlagi.com - Lembaga Sensor Film akhirnya menunda surat lolos sensor film ML. Film produksi Indika Entertaiment itu ditunda penayangannya dari jadwal sebelumnya, 15 Mei 2008. Penundaan ini bertujuan meninjau kembali isi film karya sutradara Thomas Nawilis tersebut. Hal ini dilakukan untuk menampung beberapa permintaan dari BEM UI dan ITB, serta berbagai LSM untuk minta kejelasan mengenai film ini, setelah sempat beredar trailer film ML di internet sebelum masuk sensor.

“Di sini sama sekali tidak ada pencekalan untuk film ML. Penundaan film ini karena keinginan dan inisiatif dari produser, Jadi penundaan ini masih perlu diperhalus lagi oleh pihak produser,” jelas Ketua LSF Titi Said di Gedung PPFN, Senin (12/5).

LSF, sendiri menurut Titi Said, telah melakukan fungsinya sesuai dengan UU no 8 thn 92 tentang perfilman dan PP no 7 thn 94. Hasilnya LSF memotong film ML sepanjang 15 meter.

Shanker selaku produser mengatakan penundaan ini karena terbentuknya opini negatif masyarakat terhadap film tersebut oleh trailer yang beredar sebelum masuk ke LSF.

“Jadi masyarakat sudah mem-prejudice. Padahal film ini misinya pendidikan untuk kampanye anti seks bebas,” ujar Shanker. Kalaupun muncul kabar akan ada boikot film tersebut di beberapa daerah, menurut Shanker, itu hanya soal sosialisasi.

Sementara Ferry Irawan salah satu aktor film ML bersama Ratu Felisha dan Five Vi, mengungkapkan bahwa selama pemotongan film tersebut pihak produser sudah sangat kooperatif.

“Jadi kalau setiap kali dipotong, produser sama sekali tidak keberatan,” ujar Ferry.

Untuk selanjutnya, pihak Indika akan melakukan sosialisasi ke masyarakat. “Tidak mungkin saya bikin film yang tidak tayang,” tandas Shanker. Apalagi film ini, menurutnya, banyak membawa nilai–nilai pendidikan. Jadi diharap masyarakat percaya dengan LSF sebagai lembaga yang kapabel menjalankan tugasnya. “Kalau soal opini itu terserah masyarakat,” pungkasnya.

Sumber: kapanlagi.com

Ditulis dalam sosial. 10 Komentar »

MUI Minta Film “ML” Tidak Diputar

Jakarta,(ANTARA News) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta pemerintah membatalkan izin pemutaran film “Mau Lagi” atau “ML” karena film itu mereka nilai mengandung muatan pornografi dan pelecehan terhadap perempuan.

“Kami sudah kirim surat ke Depbudpar dan sudah ditanggapi, pemutarannya sekarang ditangguhkan, tapi kami minta supaya film itu sama sekali tidak diputar. Jangan sampai pemerintah membiarkan masyarakat terpapar tayangan yang demikian,” kata Ketua MUI, Amidhan di Jakarta, Selasa.

Permintaan pembatalan izin pemutaran film tersebut disampaikan MUI menyusul banyaknya keluhan dan pengaduan masyarakat terkait rencana pemutaran film tersebut di bioskop.

“Saya tidak melihat skenario atau tayangan filmnya, tapi saya membaca buku dengan judul yang sama. Isinya buruk betul, mengandung muatan pornografi dan pelecehan terhadap perempuan,” katanya. Amidhan mengaku sengaja mencari buku tersebut.

Ia juga menyampaikan imbauan kepada para produsen film supaya tidak memproduksi film untuk semata meraup untung tanpa perduli dampak terhadap masyarakat.

“Janganlah membikin film-film yang justru memicu timbulkan kerusakan moral masyarakat, tapi bikinlah film yang bisa menjadi inspirasi untuk melakukan kebaikan,” demikian Amidhan.

Sumber: antara

Sahabatku……., Ridwan

Ku bersyukur pada Allah SWT karena Dia telah mempertemukanku padanya. Teman yang memberiku semangat. Saat bertemu dengannya, sesosok ikhwan yang membuat rasa iri di hati. Aku ingin menjadi ikhwan yang seperti dia. Aktivis dakwah yang rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan jiwa demi meneruskan perjuangan Rasulullah Muhammad SAW. Kuingat pada saat pertama kali bertemu. Awalnya biasa saja. Seorang ikhwan berkacamata yang awalnya kupikir dia orang yang cuek dan pendiam. Ternyata dia masuk kategori temen-temanku yang pengertian, saling memahami, dan pastinya dapat menambah kedekatanku pada Allah. Di hari-hari selanjutnya, dialah salah satu temanku yang sering memberiku motivasi. Ku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Meskipun aku tak tahu apakah dia menganggap diriku sebagai sahabat dan saudaranya, namun aku yakin bahwa dia sangat sayang dan perhatian dengan teman-teman di sekitarnya.Terbukti dari sms tausyiah dan kata-kata motivasi yang setiap hari terkirim ke hapeku. Keyakinanku semakin bertambah bahwa dengan doa Robithoh, Allah akan memberi banyak teman yang dapat meningkatkan keimanan diri padaNya. Ya Allah semoga semua teman-temanku diberi keberkahan olehMu. Amin….

NABRAXXX POHON…T_T

Mungkin karena terlau capek dan ngantuk berat, aktivitas hari ini diakhiri oleh kecelakaan kecil yang membuat badan sakit dan pegel-pegel. Memang semalam aku tidur terlalu malam. Jam 2 pagi baru tidur karena keasyikan ngerjain tugas kuliah Matematika Diskret 2. Memang sudah kebiasaan diriku tidur terlalu malam, bahkan kadang-kadang ampe bergadang.

Pas besok paginya, kondisi badan teraasa fit dan gak ngerasa capek. Seperti biasa menjalani rutinitas kuliah sehari-hari, kemudian menyempatkan diri ke secretariat SALAM untuk memberikan laporan progress report Wajah Muslim Indonesia (WMI) ke Ridwan (Kadep Syiar SALAM). Setelah itu, abis sholat Ashar ke lab untuk ngenet (chatting, cek email, buka FS, dan browsing) ampe jam setengah 6 lewat dikit.

Karena sudah waktunya untuk ngajar (2 murid), aku segera menuju ke rumah murid yang pertama di JatiPadang. Selama mengajar, sudah mulai terasa ngantuk. Bahkan saking ngantuk dan capeknya, sering ngomong ngelantur pada saat ngajar. Muridku ini ternyata sangat paham dan mengerti dengan kondisi badanku ini. Akhirnya yang seharusnya mengajar 1,5 jam, di “zip” Cuma setengah jam.

Waktu sudah menunjukkan jam 7. Rasa capek dan ngatuk makin bertambah, sedangkan tugas mengajar masih satu murid lagi di Benhil. Kucoba sms muridku yang di Benhil untuk ganti hari belajar, tapi karena dia banyak PR, mau gak mau mesti ngajar dia. Sambil mengandarai motorku menuju Benhil, kucoba untuk menahan ngantuk dan capek. Jarak dari Jatipadang-Benhil lumayan jauh, bias memakan waktu 45 menitan (kalo naik motor).

Seperti biasa, aku lewat Kemang yang merupakan jalan pintas dan tercepat menuju Benhil. Pas di daerah Kemang, mata udah merem melek dan naek motorpun sering oleng. Berusaha kutahan ngantuk dengan tetap fokus dan konsentrasi mengendarai motor agar tidak terjadi apa-apa. Sengaja aku ngendarain motor dengan pelan dan ngambil jalur di pinggir jalan.

Sampai di Prapanca, ngantuk dah mencapai titik klimaks. Sudah tak kuat menaham mata untuk tetep melek. Ngendarain motorpun sambil tidur. Tanpa sadar, tau-tau udah di atas trotoar dan di depan ada pohon menghadang. Hanya dalam beberapa detik …………………., BRAXXX!!!

Badan jungkir balik dari motor. Kaki, tangan, dan bahu sebelah kiri jadi sakit karena kepentok entah sama motor atau sama pohon. Trus kaca spion dua-duanya copot. Alhamdulillah nya aku ga begitu parah. Masih bisa berdiri dan jalan. Gak keluar darah, cuman luka-luka dikit.

Lalu aku melanjutkan perjalanan menuju rumah muridku yang di Benhil untuk ngajar privat. Sesampainya di rumah muridku, luka-luka yang ada di badan diberi betadin. Baru nyadar kalo ada tonjolan di bahu sebelah kiri. Sempet takut karena bingung apakah tonjolan tersebut karena bengkak akibat benturan atau ada tulang yang geser. Kucoba untuk tenang, baru terasa badanku benar-benar sakit. Jalanpun harus menahan sakit. Ngangkat tangan juga ga bias karena terlalu sakit.

Setelah ngajar, sebenernya mau langsung pulang. Tapi tugas Matematika Diskret belum selesai. Akhirnya dengan terpaksa aku ke Jaks untuk ngerjain tugas sambil nginep. Badan makin terasa sakit. Masih kepikiran dengan tonjolan di bahu. Semoga gak kenapa-kenapa deh……

Wanita di bidang teknologi informasi (momen kartini)

Kondisi global perkembangan teknologi informasi menuntut para pekerja teknologi informasi untuk menciptakan, menerapkan, dan menggunakan teknologi informasi secara maksimal. Namun peran perempuan dalam perkembangan teknologi informasi masih minoritas dibandingkan dengan banyaknya jumlah laki-laki yang masih memegang peranan penting dalam teknologi informasi. Kontribusi perempuan di Asia dalam memanfaatkan fasilitas internet sekitar 22%, Amerika Serikat sekitar 14%, Amerika Latin sekitar 38%, dan Timur Tengah sekitar 6%. Sedangkan di Indonesia, Badan Pangkajian dan Penerapan Teknologi memperkirakan perempuan Indonesia yang memanfaatkan fasilitas internet hanya sekitar 24% pada tahun 2002. Maka tidak mengherankan jika masih sedikit perempuan yang menempati posisi tenaga ahli dan professional, apalagi dalam struktur pengambilan keputusan dalam industry teknologi informasi. Peran perempuan dalam ketenagakerjaan teknologi informasi lebih mendominasi pada posisi administrative , seperti menangani surat elektronik, memasukkan data, operator computer, dan sebagainya. Tidak banyak pula perempuan yang berprofesi sebagai ilmuwan computer dan programmer.

Baca entri selengkapnya »

Wajah Muslim Indonesia (open recruitment)

Indonesia merupakan Negara yang unik dikarenakan kemajemukan budaya, ras, dan agamanya. Tapi sensus dari periode ke periode menyatakan bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan Indonesia dinyatakan sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Keyakinan mayoritas tersebut, tak dipungkiri, sangatlah mempengaruhi budaya-budaya yang ada di Indonesia. Sayangnya, hal tersebut justru tidak ditunjukkan dalam penampilan budaya Indonesia.  Oleh karena itu, berdampingan dengan program pemerintah Visit Indonesia Year 2008, SALAM Universitas Indonesia yang memiliki jaringan kampus nasional bermaksud untuk turut serta menampilkan budaya Indonesia yang sesungguhnya.

Wajah Muslim Indonesia merupakan event yang dilaksanakan oleh SALAM Universitas Indonesia berskala nasional. Insya Allah akan melibatkan beberapa LDK senasional. Bentuk acaranya berupa perlombaan(dikuti oleh mahasiswa dan pelajar), Talkshow, Festival Seni Budaya Islam, Bazaar, dan lain-lain.

Khusus temen2 mahasiswa Universitas Indonesia yang ingin bergabung dan berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan berskala nasional ini, silahkan melakukan registrasi kepanitiaan dengan cara mengirim sms dengan format sebagai berikut:

NPM_FAKULTAS_NAMA_DIVISI_NO.HP_EMAIL

contoh:

0706276664_FASILKOM_ArdianKusumaJaya_08569909099_ardi@yahoo.com

kirim ke salah satu nomor di bawah ini (kalo sesama operator lebih murah kan):

arif : 085694063457

andro : 081359161405

kirana : 02199860708

Ditunggu kontribusi temen-temen……..!

Ditulis dalam informasi. 7 Komentar »