Oleh:
Akhukum Fillah Achmad Fahrozi
Ketua Umum Dekade 1 SALAMUI
“Mari Bersama Belajar Mencintai Indonesia Kita!”
Penyebaran Islam merupakan salah satu proses yang sangat
penting dalam sejarah Indonesia, tapi juga yang paling tidak jelas
(Sejarah Indonesia Modern, M.C Ricklefs).
Keislaman dan Keindonesian adalah dua kata
yang telah telah menyatu selama berabad-abad lamanya hingga kini.
Oleh karena itu, banyak kebudayaan Indonesia
yang mengandung nilai-nilai keislaman di dalamnya.
Di mana kebanggaan itu sekarang? Sengaja saya ajukan sebuah pertanyaan singkat yang mungkin sejenak terlintas “tidak penting” di awal tulisan ringan ini. Ada hal yang menarik kalau kita mau belajar dari sejarah tentang berbagai kemenangan-kemenangan yang lahir dalam suatu medan pertempuran atau medan kompetisi baik fisik ataupun ideologis. Bagaimana kemenangan para Nabi dan Rasul-Nya seperti kemenangan Rasulullah saw dalam dakwahnya di Mekah dan Madinah? Kemenangan Nabi Musa as dalam menghentikan keangkuhan imperium Fir’aun? Bagaimana kemenangan bangsa tercinta ini dalam merebut kemerdekaannya tahun 1945? Sampai kepada bagaimana kemenangan dakwah itu bisa kita lahirkan di kampus tercinta ini? Bahkan, sampai kepada kemenangan sederhana tapi bermakna yang setiap saat mungkin mengisi hari-hari kita di kampus seperti menjadi Mapres Utama UI, Memenangi berbagai even perlombaan dan lain-lain.
Dalam setiap pertempuran, kita akan menemukan jawaban akhir yang dikotomi (mutually exclusive), kalah atau menang? Namun, tanpa harus dilakukan penelitian pun kita pasti tahu jawabannya bahwa kemenangan adalah harga mutlak yang diinginkan setiap individu, komponen, organisasi atau masyarakat. Kemenangan bukanlah sesuatu yang kita ciptakan melainkan kita “ikut” ciptakan. Artinya, ada dua faktor penting di sana. Adalah Allah yang menentukan takdir kita dan bagaimana keoptimalan ikhtiar (usaha) kita. Jadi kalau kita mau meraih kemenangan itu, syaratnya sangatlah mudah, yaitu bagaimana kita dapat mempertemukan antara kekuatan kehendak Allah SWT dengan keoptimalan ikhtiar kita. Atau dengan kata lain, sudah pantaskah ikhtiar (usaha) yang kita lakukan dengan imbalan kemenangan tersebut (Ar-Ra’ad: 13). Saya tidak akan membahas tentang kehendak Allah SWT, karena itu hanya kewenangan-Nya sekaligus kita pun tsiqoh (percaya) bahwa keputusan-Nya adalah yang terbaik buat kita sebagai hamba-Nya. Maka bentuk intervensi yang memiliki daya pengaruh kuat atas kehendak Allah SWT adalah do’a karena do’a adalah sumsumnya ibadah.
Meraih Kemenangan Hakiki
Kembali kepada sejarah berbagai kemenangan di atas tadi. Ada hal unik kita temukan di antara berbagai kemenangan tadi. Ternyata kemenangan-kemenangan tersebut memiliki berbagai kesamaan antara kemenangan yang satu dengan yang lainnya. Kesamaan itu terutama terletak pada unsur-unsur kemenangan (anasirul falah) yang ada yang akhirnya memang membuat mereka memang layak dapat tiket kemenangan itu. Bingung ya? Begini maksudnya, dalam setiap kemenangan pasti ada faktor-fakor atau syarat-syarat yang harus dimiliki supaya bisa menang (sebab-akibat). Sejauh mana kita memiliki prasyarat itu, sejauh itulah kata “menang” menghampiri. Semakin bulat kita miliki prasyarat itu, semakin bulat juga definisi “menang” tergenggam. Semakin kita mampu menghadirkan prasyarat itu, semakin kuat pula kita menghadirkan kemenangan di pelupuk mata kita.
Di manakah letak kesamaan itu? Kemenangan “Harga Diri” lah letak kesamaannya. Jauh sebelum kemenangan seutuhnya diraih, ternyata itu diawali kemenangan “harga diri”. Dalam konteks individu bernama kemenangan “harga diri”, sedangkan dalam konteks masyarakat atau bangsa disebut “nilai bangsa”. Ternyata kemenangan harga diri itu tidak begitu saja muncul, melainkah harus dan memang sengaja dihadirkan. Karena disitulah letak kunci kemenangan sesungguhnya. Di sinilah hakikat kemenangan itu. Jika kemenangan “harga diri” dimiliki maka kemenangan seutuhnya tinggal menunggu waktu.
Itulah yang dilakukan Rasulullah saw. ketika berdakwah selama 13 tahun di Mekkah dengan membangun harga diri kaum muslimin. Bahkan, hebatnya untuk membangun sebuah peradaban baru di madinah yang mampu menjadi pelita di tengah peradan Persia dan Romawi butuh waktu yang lebih singkat yaitu hanya butuh 10 tahun saja. Begitupun yang dilakukan oleh Nabi Musa as. Hasan Al-Banna menjelaskan tahapan-tahapan kebangkitan berdasarkan teks Al-quran. Ia mengutarakan tahapan-tahapan pertentangan antara Musa dan Fir’aun: 1. Tahap kelemahan dan penindasan (kehilangan harga diri) (Al-Qashas; 3-6), 2. Tahap persiapan memegang kepemimpinan (As-Syuara’: 16-21), 3. Tahap Pergulatan dan perlawanan dari musuh (al-A’raf:127-128), 4. Tahapan keimanan dan memberikan tantangan (Thaha: 72-73), 5. Tahap kemenangan dan keberhasilan ( Thaha : 80). Di sini kita lihat bahwa kebangkitan mulai akan muncul dari hilangnya harga diri yang ditandai dengan kehadiran jiwa yang lemah. Oleh karena itu, untuk membangkitkan ruh kebangkitan harus dimulai dengan mengisi kekosongan jiwa tersebut dengan nilai-nilai kemuliaan hingga bangkitnya “harga diri” itu (lihat Tahap 2 di atas).
Begitupun dengan Indonesia, berkaca pada peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Indonesia. Kebangkitan “harga diri” muncul ketika penjajah hadir merampas kebebasan bangsa Indonesia. “Menjadi jajahan itu tidak enak sekali, terasa sekali bedanya dengan penjajah. Mereka memiliki hak yang banyak dan kewajiban sedikit sedangkan yang dijajah kewajiban banyak sedangkan haknya sedikit.” Demikianlah gambaran S.K Trimurti menjelaskan pahitnya sebuah penjajahan. Kezhaliman merebak di mana-mana. Hingga akhirnya kesadaran antipenjajah diilhami oleh seluruh lapisan masyarakat. Inilah titik tolak kebangkitan “harga diri” itu. Tokoh-tokoh Islam dan aktivis pergerakan nasional mengambil peranan penting dalam melawan kolonialisme. Kebangkitan harga diri menghasilkan sebuah persatuan. Persatuan adalah kata kunci kemenangan. Bangsa Indonesia di atas segalanya sesuatunya mengutamakan persatuan. Tanpa persatuan, Indonesia tidak akan mampu merdeka, bahkan dengan sangat mudah dicabik-cabik kolonialis. Persatuan juga menghasilkan identitas bangsa dan cita-cita bersama yakni Indonesia Merdeka.
Bayangkan, pada saat itu pejuang kita tidak memiliki apa-apa. Persenjataan, perlatan canggih dan modern, armada perang terlatih, pasokan makanan, dana yang melimpah, kita tidak memilikinya. Tapi, hanya berbekal harga diri yang tercermin dalam dua kata penting yang menjadi simbol perjuangan “Indonesia Merdeka”, kita mampu memukul mundur para penjajah dan memerdekakan diri. “Kalau kamu tidak pernah berpikir seperti seorang Budak, tak akan ada seorang pun yang bisa membuat kamu menjadi budak” (Ibu Martin Lither King). Begitu simplenya sebuah kemerdekaan. Itulah yang ada di benak para pejuang kita bahwa kita bukan jajahan. Maka, tidak akan ada seorang pun yang boleh menjajah. Inilah perintah Allah dalam surat Ar-Ra’ad:13 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum, sehingga mereka mengubah diri mereka sendiri.”
Islam Mengajari Kita Mencintai Negeri ini
Marilah kita merenung sejenak tentang Indonesia kita ini. Berapa banyak dan besarnya potensi yang dimiliki bangsa ini. Kita memiliki puluhan ribu pulau (sekitar 17ribuan pulau), kekayaan alam melimpah, sawah dan hutan membahana, gunung-gunung berbaris, lautan terbentang luas, SDM potensi begitu banyak (90% muslim). Tapi apakah pada hakikatnya kita memiliki itu semua? Mungkin secara kepemilikan ya, tapi siapakah yang menikmati? Negeri ini ibarat orang sehat secara fisik yang tidak mampu menikmati rasa sehat itu. Ia seperti memiliki segala sesuatunya tapi tak mampu merasakan sendiri kekayaannya itu. Ia seperti menang tapi memiliki hakikat kekalahan. Ia seperti orang yang melihat tapi pada memiliki hakikat kebutaan.
Belum lagi perpecahan, konflik internal antar sesama bangsa. Bagaimana kasus perpecahan kaum muslim antar sesamanya. Belum lagi tuduhan terorisme dan radikalisme yang dilancarkan oleh mereka yang membenci Islam untuk meraih keuntungan. Sehingga dengan bebasnya mereka mencaplok kekayaan-kekayaan negeri-negeri Muslim. Lihatlah Irak, Afganistan, Palestina dan tentunya Indonesia tercinta ini. Dengan berat hati, kita harus mengakui bahwasannya negeri ini sudah tidak lagi punya “harga diri” (Anda boleh sepakat atau tidak). Harga diri ini harus terampas kedua kalinya oleh kolonialisme meskipun bentuknya bukan berupa penjajahan fisik seperti penjajahan konvensional yang dilakukan oleh Belanda, Jepang dan Inggris. Inilah peran kita. Kita harus mengembalikan kemenangan itu. Kita harus mengembalikan kejayaan itu. Kita harus mengembalikan harga diri itu sebagai prasyarat utama kemenangan itu.
Umat Islam mayoritas di negeri ini (200 juta). Sejak abad ke-7 Islam masuk ke negeri ini, tapi luar biasanya hingga kini Islam tetap menjadi mayoritas. 13 abad eksistensi Islam di negeri ini bukanlah waktu yang singkat. Tentu kita ingat, bagaimana Islam menjadi perekat bangsa ini (sense of bounding) tahun 1928, tahun 1945 dan para pejuang kita menjadi saksi. Bagaimana H.O.S Tjkroaminoto, H. Agus Salim, K.H Mas Mansur, K.H Ahmad Dahlan, K.H Hasyim Asy’ari, Tjut Nyak Dien, Teuku Umar, Panglima Sudirman, Bung Tomo, Kapiten Pattimura, Pangeran Diponegoro dll. Janganlah pernah meragukan nasionalisme umat Islam dalam perjuangan bangsa ini. Penyebaran Islam merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia, tapi juga yang paling tidak jelas (Sejarah Indonesia Modern, M.C Ricklefs). Keislaman dan Keindonesian adalah dua kata yang telah telah menyatu selama berabad-abad lamanya hingga kini. Oleh karena itu, banyak kebudayaan Indonesia yang mengandung nilai-nilai keislaman di dalamnya. Bukan bermaksud untuk mengambil sejarah Indonesia menjadi seluruh sejarah Islam. Tapi perlu objektivitas bahwa Islam memiliki peranan yang teramat penting dalam perjalanan bagsa ini tanpa harus melupakan sejarah lain.
Kini dalam proses pengembalian “Harga Diri” umat muslim berhadapan dengan dua permasalahan utama. Pertama, dari kalangan umat muslim itu sendiri. Dewasa ini, kita akan banyak menemukan orang yang mengaku dirinya Islam, tapi pada hakikatnya bukan Islam bahkan “malu” mengakui bahwa dirinya umat Islam. Banyaknya permasalahan yang menimpa negeri Muslim membuatnya ragu untuk menjadi muslim seutuhnya. Belum lagi, hilangnya “sejarah kebanggaan” dari memori mereka semakin memperbesar rasa “rendah diri” mereka. Ditambah pula mereka yang hanya mengambil kesenangan sesaat untuk kepentingan pribadi mereka. Lengkaplah penderitaan negeri ini. Kedua, dari kalangan yang tidak suka dengan Islam. Mereka yang senantiasa memandang Islam lewat kaca mata rasionalitas. Lebarnya kesenjangan antara nilai Islam dengan perilaku penganutnya menambah keyakinan mereka akan bahaya Islam. Belum lagi, penampakan media massa yang terkadang tidak objektif dan menyudutkan islam semakin mempertajam memori mereka untuk semakin membenci Islam. Bukanlah pembacaan terhadap ayat-ayat Allah SWT dan bukanlah pembelajaran dan pengajaran hikmah yang mereka gunakan dalam melukiskan Islam, melainkan mata persepsilah yang mereka gunakan untuk mempertegas alasan mengapa Islam harus dimusuhi. Belum lagi konspirasi global yang memang secara sengaja dan sadar bertujuan ingin menghancurkan negeri-negeri Islam termasuk negeri kita ini.
Saudaraku, inilah masalah terbesar kita. Kini, bangsa kita tidak memiliki apa-apa. Negeri kita adalah negeri besar, itu adalah bualan belaka. Kekayaannya yang melimpa ruah itu hanyalah ilusi. Nyatanya kita tidak mampu sedikitpun menikmati kekayaan itu. Kelaparan, kematian karena gizi buruk, kemiskinan, kebodohan masih saja menghiasi negeri indah ini.
Saudaraku, bolehlah mereka merampas semua yang kita miliki. Tapi janganlah pernah terampas oleh mereka “harga diri” ini. Harga diri menggambarkan perasaan sakit yang menyakitkan apabila penjajahan terjadi di negeri ini. Harga diri menggambarkan hati yang suci dan tulus berkorban untuk martabat bangsa. Harga diri menggambarkan semangat yang terus menyala dan berkobar untuk berjuang bagi berdirinya bangsa yang adil, makmur dan sejahtera. Harga diri menggambarkan kebanggan untuk senantiasa menjadi tebusan bagi lahirnya sebuah tatanan peradaban mulia. Dari harga dirilah lahir perjuangan, pengorbanan, kemerdekaan, keadilan, kemakmuran, kesehjateraan dan martabat bangsa. Banggaku akan menjadi seorang muslim yang sebulat-bulatnya. Sudah saatnya kau penuhi panggilan itu wahai para mujahid. Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…